Langsung ke konten utama

Anak Lelakiku

Malam minggu ini ceritanya mau curhat... he
Berkisah bisa dilakukan oleh siapa saja, namun ada yang bisa mengambil pelajarannya ada pula yang lewat begitu saja. Sekadar menumpahkan isi hati maka hati jadi plong gitu aja. 

Ketika anak sudah menginjak besar, maka kedekatannya dengan ibu mulai berkurang apalagi anak laki-laki. Ia akan mudah bergaul dan memiliki teman-teman yang mengajaknya bermain diluar rumah, hal ini sedikit mencemaskan karena ibu biasanya ingin tahu apa yang dilakukan sang anak diluar rumah. 

Kejadian hari ini membuat saya nervous dengan tingkah si sulung, seorang anak laki-laki yang berusia menjelang 10 tahun. M. Hanif Lidinillah namanya.

Hanif sudah mahir mengendarai sepeda dan hari ini dia pergi sekolah sendiri, ia rela pergi lebih pagi agar tidak terlambat dan ketika jalanan tidak begitu ramai. Rumah kami berada di tepi jalan raya yang dilewati berbagai kendaraan mulai dari becak, motor sampai truk tronton yang masing-masing bisa saja melaju dengan kencang, wussss!!

Kekhawatiran saya dimulai dari mulai Hanif pergi sampai pulang kembali ke rumah dengan selamat. Jarak dari rumah ke sekolah juga cukup jauh sekitar 10 menit menggunakan sepeda motor. Setiap Sabtu sekolah tidak full hingga sore melainkan hanya sampai pukul 10.00, seperti biasanya saya menunggu di rumah. Adiknya yang dijemput ayahnya sudah tiba pukul 10.30 namun Hanif belum pulang juga!

Mulai hati gak tenang, lintasan-lintasan yang gak baik mulai melayang-layang di kepala. Segera ambil handphone dan menghubungi beberapa orangtua murid teman sekelas Hanif. Dua orang gak ada yang tahu dimana Hanif, tanya ke ustadznya juga gak ada. Huffft.

Tenang, tarik nafas, lihat jam 11.00, belum juga datang. Tiba-tiba ada pesan WA dari ayahnya Idos, 
“Bu, kata anak saya ... Hanif tadi sama Ian mau ke rumah Angkon." 
Alhamdulillah ada titik terang, lanjut menghubungi bundanya Angkon. Dan alhamdulillah ada, hati terasa nyesss... kayak diguyur air es, tenang. Bukannya gak mau nyari keluar hanya ini si bungsu lagi sakit.

Saya minta segera pulang sebelum dzuhur, tapi dia telepon pakai handphone ayahnya Angkon,
“Umi, pulangnya nanti ya bentar lagi...” Terdengar santai di ujung handphone sana.
“Kenapa gak pulang dulu, bilang sama Umi kalau mau kemana-mana!” Dengan nada agak tinggi.
“Tadi Hanif dah pulang tapi gak naik, bilangnya sama emak (nenek) di toko... “ Ia membela diri.
“Masa?! Kok emak gak bilang?” Aku terheran.
“Ga Tau...TuuutHandphone nya mati.


Astaghfirullah, nih anak udah bisa berkilah... hm, baiklah Umi tunggu.

Adzan berkumandang, Hanif tak kunjung pulang, akupun ke bawah (toko) dan memberitahu kepada abinya. Dan ternyata abinya gak tahu malah nyangka udah pulang, hadeuh.
“Abi, tau gak ... Hanif belum pulang, sekarang masih di Angkon. Tadi katanya dah pulang bilang ke emak. Abi gak dikasi tahu mamah (emak)?” Jelasku.
“Gak, mamah gak ngasi tahu juga. Lupaeun kali, maklumlah udah tua,” Jawab abi pendek.
“Hm, iya ya.. ah, mungkin lupa” Hatiku mentolerir.

Namun tetap saja gundah karena Hanif sekarang kok gak nurut, disuruh pulang segera malah belum juga pulang. Apa ini siklusnya, dia menjadi besar dan memiliki keinginan sendiri yang terkadang tidak sesuai dengan keinginan kita orangtuanya. Aku berpikir keras dengan perkembangan sikapnya.
Ya Allah, aku tidak bisa menyertainya selalu... 

Aku titipkan pada-Mu Ya Allah,

Tenangkanlah hatiku... 
Selamatkanlah ia sampai ke rumah.

Aamiin

Ketika ke gerbang belakang dan kulihat sepeda kuning hitamnya, tenang banget nih hati, wajah terpancar bahagia, bergegas aku naik ke rumah.
“Umi... “ Memanggilku sambil meraih tanganku.
“Alhamdulillah, Hanif udah pulang. Jam berapa tadi sampainya sayang?”
“Jam 1 tadi, ya kan dek?” Jawabnya.
“Bukan ih, baru juga dateng... jam setengah 2 Mi!” Timpal adiknya.
“Kak Hanif... ko gitu, jujur aja atuh! Umi hanya khawatir ada apa-apa kak," Jelasku.

Ko mulai berbohong ya, atau mungkin karena takut dimarahi.
Aku tarik nafas, hitung mundur 10-0, istighfar dan baru ngobrol lagi dengan Hanifku. Jadi bisa selow, dia akhirnya cerita bla... bla...

Tau gak, aku merasa sulit masuk, hiks. Sedih tapi ini tantangannya, anakku sedang bertumbuh dan berkembang. Dia punya pikiran dan lingkungan yang menurutnya lebih nyaman saat ini. Untungnya aku masih bisa mengorek cerita darinya, semoga kelak ia mengerti rasa sayang ini yang terkadang terekspresikan lain, lewat marah ataupun emosi sesaat.

Hari ini banyak hikmah dan tarbiyah auladi dari Allah SWT yang bisa  kudapat, aku harus bisa menjadi ibu yang lebih sabar lagi lalu bisa berkomunikasi dengan menekan emosi ini, agar anakku bisa menceritakan semua dengan jujur, ya... jujur. Dan yang paling terasa  itu kepasrahan kepada Allah setelah sekuat tenaga kita dampingi karena pengawasan kita sangat.. sangat terbatas. 

Rabbi habli minnashalihiin... Aamiin


Miya Cahaya
03 Muharram 1439H

*Tarbiyah Auladi: Pendidikan Anak

Komentar

  1. Memang fasenya usia segitu Umi...Yang penting terus jaga komunikasi dengan anak, biar dia selalu menjadikan ibunya tempat mengadu dan bercerita. Terus mulai ada peraturan, misal kalau mau main pulang sekolah harus ke rumah dulu, atau paginya ijin dulu, dll....
    Salam kenal ya..saya ibu dua anak lelaki - kelas 3 dan kelas 7 :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Wasiat Imam Hasan Al Banna Rahimahullah (Bag. 2)

๐Ÿƒ๐ŸŒบSyarah 10 Wasiat Imam Hasan Al Banna Rahimahullah (Bag. 2)๐ŸŒบ๐Ÿƒ ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ ุงุชู„ ุงู„ู‚ุฑุงู† ุงูˆ ุทุงู„ุน ุงูˆ ุงุณุชู…ุน ุงูˆ ุงุฐูƒุฑ ุงู„ู„ู‡ ูˆ ู„ุง ุชุตุฑู ุฌุฒุก ู…ู† ูˆู‚ุชูƒ ูู‰ ุบูŠุฑ ูุงุฆุฏุฉ Bacalah Al Quran, atau menelaahnya, atau mendengarkannya, atau berdzikirlah kepada Allah, dan jangan buang waktumu sedikit pun dengan hal yang tidak bermanfaat. ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ Dalam wasiat ini ada lima nasihat Imam Al Banna kepada murid-muridnya. Kelima nasihat itu adalah: Membaca Al Quran, Menelaahnya, Mendengarkannya, Berdzikir, dan Tidak membuang waktu dengan aktifitas yang sia-sia. Kita bahas satu persatu .. 1⃣ Membaca Al Quran Bagi seorang muslim membaca Al Quran adalah terminal ruhiyah dan jiwa. Hiburan hakiki bagi orang beriman dan senandung para mujahid. Kebutuhan-kebutuhan spiritual manusia baik ketenangan, ketentraman, ketundukan, ikhlas, pasrah kepada ketetapanNya, semua bisa diraih dengan membaca Al Quran, serta merenungi kandungannya. Seandainya hanya membaca, itu pun sudah membawa manfaat bagi jiwany...

Mengeluh dan Bersyukur

"Ketika Mengeluh Tandanya Kurang Bersyukur" Manusia memiliki sifat berkeluh kesah, apapun yang dijalani pasti ada keluh dibaliknya. Namun... pernahkah kita menyadari bahwa keluh itu membuat kita kurang bersyukur kepada nikmat yang telah diberikan Allah SWT??? Allah telah memberikan rezeki, namun masih saja mengeluh, "Andai uang saya lebih banyak ... hm, pasti menyenangkan bisa beli ini dan itu." Allah sudah memberikan pasangan, "Sebel ih sama Abi... dikit-dikit ngatur, pengennya menang sendiri!" Harusnya kita bersyukur masih Allah berikan pasangan... karena banyak yang mendamba tapi belum datang jua. "Aduhhh, bisa diam gak sih? Mamah udah capek tau!" Teriak pada anaknya yang masih balita, padahal banyak pasangan yang ingin punya keturunan. Harusnya kita lebih baik lagi bersikap pada anak kita. Yang berarti itu bukti syukur kita pada Allah. Masih banyak contoh lain dari keluhan-keluhan yang keluar dari kulit kita tanpa disadari it...

10 Wasiat Imam Hasan Al Banna (Bag. 1)

Penting banget nih, mengetahui dan mengerti lalu melakukan Wasiat Imam Hasan Al-Bana karena semuanya shahih berasal dari Qur'an dan Hadits. Sudah terbukti juga bisa menjadikan diri lebih berkualitas di hadapan Allah apalagi di hadapan manusia... Kita simak yuuk!  ๐Ÿ˜‰ ๐ŸŒป Syarah 10 Wasiat Imam Hasan Al Banna (Bag. 1) ๐ŸŒป ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ Wasiat 1: ู‚ู… ุงู„ู‰ ุงู„ุตู„ุงุฉ ู…ุชู‰ ุณู…ุนุช ุงู„ู†ุฏุงุก ู…ู‡ู…ุง ุชูƒู† ุงู„ุธุฑูˆู Tegakkanlah shalat saat kau mendengarkan panggilannya apa pun keadaannya ☘☘☘☘☘☘☘ Wasiat (nasihat) ini begitu penting, apalagi Islam menempatkan shalat sebagai rukun Islam yang kedua setelah mengucapkan dua kalimat syahadat. Hendaknya seseorang memperhatikan kondisi kejiwaannya terhadap shalat; apakah mencintainya atau membencinya, sigap memenuhi panggilannya atau menunda-nundanya. Semua ini menunjukkan baik tidaknya kadar iman seseorang. Wasiat ini begitu penting, sebab shalat di awal waktu adalah perbuatan yang paling dicintai Allah ๏ทป . Hal ini jelas tertera dalam hadits berikut...