Apa yang terbayang di benak Anda, ketika ditanyakan tentang emansipasi wanita.
Jawabannya pasti beragam, ada yang setuju ada juga yang tidak.
Begitupun dengan cara memandangnya, ada yang menganggap bahwa emansipasi wanita itu berarti wanita harus sama kedudukannya dengan pria tanpa kecuali.
Nah, hal inilah yang salah kaprah dan akhirnya malah menimbulkan kerugian bagi wanita sendiri.
Salah satu kerugiannya adalah banyak wanita di era modern saat ini yang mengalami kekerasan terlebih dalam rumah tangga, yang diakibatkan karena terlalu mengedepankan emansipasi.
Dalam berumah tangga, ia ingin punya kebebasan bergerak layaknya pria. Hal ini bisa memicu pria untuk bertindak keras kepadanya, dari mulai perkataan kasar sampai pemukulan. Mungkin suaminya kesal karena tidak bisa mengurus rumah dan anak-anak.
Lain kasus, adanya pelecehan seksual kepada wanita yang meninggikan emansipasi ini, karena sering pulang larut malam maka ia dengan mudah diganggu oleh pria hidung belang, terjadilah perkosaan.
Temuan Komnas Perempuan selama 2016 menunjukkan bahwa terdapat 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani. Dari jumlah itu, terdiri dari 245.548 kasus bersumber pada data kasus/perkara yang ditangani oleh 359 Pengadilan Agama, serta 13.602 kasus yang ditangani oleh 233 lembaga mitra pengada layanan, tersebar di 34 Provinsi.
Antara emansipasi dan kekerasan terhadap wanita ada kaitannya. Tentu jika paradigma atau cara pandang tentang emansipasi wanita ini keliru. Menganggap emansipasi itu harus sama dengan kaum pria.
Maka emansipasi seperti apa yang benar?
Firman Allah SWT dalam Al-Qur'an:
"Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik ia laki-laki maupun perempuan sedang ia yang beriman, maka mereka itu masuk kedalam surga dan mereka tidak dianiaya sedikitpun."
(QS. An-Nisaa',4: 124)
Di ayat tersebut, terlihat bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama yaitu surga abadi, syaratnya adalah beramal shaleh.
Disinilah emansipasi itu hadir, persamaan yang harusnya dikedepankan itu tentang keshalehannya, bukan hanya dalam hal duniawi saja.
Sebenarnya, emansipasi itu tidak sekedar persamaan hak atau kewajiban dengan kaum pria dalam arti kata yang sempit, akan tetapi harus ada batas-batas yang justru di ikuti dan disetujui oleh fitrah wanita itu sendiri.
Sedang banyak kaum wanita memaksakan pengertian emansipasi sebagai persamaan hak dan kewajiban tanpa batas, justru merugikan derajat dan harkat wanita itu sendiri.
Ketika wanita paham makna emansipasi sebenarnya, maka ia akan bersungguh-sungguh mendidik anak-anaknya, membina keluarganya, mencerdaskan masyarakat sekitarnya.
Oleh karena itu, emansipasi yang keliru akan menambah angka kekerasan pada wanita. Maka solusinya adalah membenahi makna emansipasi dengan benar, yakni sesuai dengan Quran dan fitrah wanita itu sendiri.
Wallahu'alam
19 April 2017
๐ธMiya Cahaya
Jawabannya pasti beragam, ada yang setuju ada juga yang tidak.
Begitupun dengan cara memandangnya, ada yang menganggap bahwa emansipasi wanita itu berarti wanita harus sama kedudukannya dengan pria tanpa kecuali.
Nah, hal inilah yang salah kaprah dan akhirnya malah menimbulkan kerugian bagi wanita sendiri.
Salah satu kerugiannya adalah banyak wanita di era modern saat ini yang mengalami kekerasan terlebih dalam rumah tangga, yang diakibatkan karena terlalu mengedepankan emansipasi.
Dalam berumah tangga, ia ingin punya kebebasan bergerak layaknya pria. Hal ini bisa memicu pria untuk bertindak keras kepadanya, dari mulai perkataan kasar sampai pemukulan. Mungkin suaminya kesal karena tidak bisa mengurus rumah dan anak-anak.
Lain kasus, adanya pelecehan seksual kepada wanita yang meninggikan emansipasi ini, karena sering pulang larut malam maka ia dengan mudah diganggu oleh pria hidung belang, terjadilah perkosaan.
Temuan Komnas Perempuan selama 2016 menunjukkan bahwa terdapat 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani. Dari jumlah itu, terdiri dari 245.548 kasus bersumber pada data kasus/perkara yang ditangani oleh 359 Pengadilan Agama, serta 13.602 kasus yang ditangani oleh 233 lembaga mitra pengada layanan, tersebar di 34 Provinsi.
Antara emansipasi dan kekerasan terhadap wanita ada kaitannya. Tentu jika paradigma atau cara pandang tentang emansipasi wanita ini keliru. Menganggap emansipasi itu harus sama dengan kaum pria.
Maka emansipasi seperti apa yang benar?
Firman Allah SWT dalam Al-Qur'an:
"Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik ia laki-laki maupun perempuan sedang ia yang beriman, maka mereka itu masuk kedalam surga dan mereka tidak dianiaya sedikitpun."
(QS. An-Nisaa',4: 124)
Di ayat tersebut, terlihat bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama yaitu surga abadi, syaratnya adalah beramal shaleh.
Disinilah emansipasi itu hadir, persamaan yang harusnya dikedepankan itu tentang keshalehannya, bukan hanya dalam hal duniawi saja.
Sebenarnya, emansipasi itu tidak sekedar persamaan hak atau kewajiban dengan kaum pria dalam arti kata yang sempit, akan tetapi harus ada batas-batas yang justru di ikuti dan disetujui oleh fitrah wanita itu sendiri.
Sedang banyak kaum wanita memaksakan pengertian emansipasi sebagai persamaan hak dan kewajiban tanpa batas, justru merugikan derajat dan harkat wanita itu sendiri.
Ketika wanita paham makna emansipasi sebenarnya, maka ia akan bersungguh-sungguh mendidik anak-anaknya, membina keluarganya, mencerdaskan masyarakat sekitarnya.
Oleh karena itu, emansipasi yang keliru akan menambah angka kekerasan pada wanita. Maka solusinya adalah membenahi makna emansipasi dengan benar, yakni sesuai dengan Quran dan fitrah wanita itu sendiri.
Wallahu'alam
19 April 2017
๐ธMiya Cahaya
Komentar
Posting Komentar