Langsung ke konten utama

Mengawali Home Education

Saya diajak merenung tentang pendidikan di rumah, bukan memindahkan sistem sekolah ke rumah, tapi lebih daripada itu...
Belajar dan berusaha mendidik anak di rumah sesuai fitrahnya, tentu anak satu dengan lainnya memiliki sifat & kecenderungan berbeda...
Tugas kita untuk mencari tau dan mengarahkan nya sesuai fitrah dan nilai - nilai keIslaman.
Tulisan ini mengawali saya untuk membuat formula yang pas untuk mendidik anak.
Bismillah...
๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ

Renungan Pendidikan #1

Oleh: Ust. Harry Santosa

*_Home Education_*

Sesungguhnya hanya kedua orangtualah yg paling kenal potensi keunikan anak2nya. Dari sanalah karakter2 baik dikembangkan dan disempurnakan dgn akhlak mulia. Kedua orangtuanya lah makhluk yg paling mencintai dgn tulus anak2nya. Orangtua sejati adalah mereka yg menginginkan kebahagiaan anak2nya lebih dari apapun di muka bumi.

Dunia persekolahan adalah dunia yg tdk pernah mengandung anak2 kita, tdk pernah melahirkan anak2 kita bahkan tdk pernah diberi amanah oleh Allah swt sesaatpun juga, krn itu persekolahan bukanlah dunia yg sungguh2 mampu mengenal dan mencintai anak2 kita dgn tulus dan ikhlash.

Bukankah anak kita adalah alasan terbesar dan terpenting mengapa kita ada di muka bumi ini? Merekalah sbg amanah mendidik generasi peradaban bagi dunia yg lebih damai dan sbg amanah yg akan membanggakan Ummat Muhammad di yaumilqiyamah kelak.

Membangun “home education” bukanlah pilihan tetapi kewajiban setiap orangtua, porsi kuantitas waktu dan kualitas perhatiannya mesti jauh lebih banyak bahkan meniadakan porsi persekolahan.

Sayangnya banyak ortu yg menganggap kewajiban mendidik telah selesai ketika anak2 berada sepenuh waktu di sekolah dan di lembaga2 kursus. Obrolan ttg pendidikan adalah obrolan seputar ranking, ijasah, prestasi2 akademis dan tugas2 sekolah yg dibawa ke rumah, bukan tentang mengembangkan karunia fitrah yg anak2 kita miliki.

Mari kembalikan fitrah kesejatian peran orangtua, kesejatian fungsi rumah, kesejatian pendidikan, kesejatian anak2 kita. Jangan sekali2 merubah fitrah kesejatian itu semua krn itulah sesungguhnya penyebab berbagai krisis dan kerusakan di muka bumi.

Salam Pendidikan Peradaban
#‎pendidikanberbasispotensi dan akhlak

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Diri

KISAH DIRI Bismillah..  Dari Abdullah bin Mas’udz, beliau menceritakan bahwa Rasulullah ` tidur di atas tikarnya.  Tikar itu pun membekas di lambung beliau yang mulia.  Para shahabat mengatakan, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika kami buatkan kasur untukmu?” Beliau ` pun menjawab:   :ู…َุง ู„ِู‰ ูˆَู…َุง ู„ِู„ุฏُّู†ْูŠَุง ู…َุง ุฃَู†َุง ูِู‰ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ุฅِู„ุงَّ ูƒَุฑَุงูƒِุจٍ ุงุณْุชَุธَู„َّ ุชَุญْุชَ ุดَุฌَุฑَุฉٍ ุซُู…َّ ุฑَุงุญَ ูˆَุชَุฑَูƒَู‡َุง“  "Apa urusanku dengan dunia?! Tidaklah aku di dunia ini kecuali hanyalah seperti musafir yang bernaung di bawah pohon lalu pergi meninggalkannya.” [H.R. At-Tirmidzi].   Wahai diriku,   Hidup yang singkat ini   Pergunakanlah sebaik mungkin   Nikmatilah dengan kesyukuran Rangkailah dengan kebaikan Insafi dengan penyesalan  Wahai diri,  Hidup sekalimu  Harus ditujukan untuk pemilikmu Allah SWT  Kan sia-sia bila hanya untuk dunia   Ingat hidup adalah perjalanan Menuju akhe...

Mengeluh dan Bersyukur

"Ketika Mengeluh Tandanya Kurang Bersyukur" Manusia memiliki sifat berkeluh kesah, apapun yang dijalani pasti ada keluh dibaliknya. Namun... pernahkah kita menyadari bahwa keluh itu membuat kita kurang bersyukur kepada nikmat yang telah diberikan Allah SWT??? Allah telah memberikan rezeki, namun masih saja mengeluh, "Andai uang saya lebih banyak ... hm, pasti menyenangkan bisa beli ini dan itu." Allah sudah memberikan pasangan, "Sebel ih sama Abi... dikit-dikit ngatur, pengennya menang sendiri!" Harusnya kita bersyukur masih Allah berikan pasangan... karena banyak yang mendamba tapi belum datang jua. "Aduhhh, bisa diam gak sih? Mamah udah capek tau!" Teriak pada anaknya yang masih balita, padahal banyak pasangan yang ingin punya keturunan. Harusnya kita lebih baik lagi bersikap pada anak kita. Yang berarti itu bukti syukur kita pada Allah. Masih banyak contoh lain dari keluhan-keluhan yang keluar dari kulit kita tanpa disadari it...

10 Wasiat Imam Hasan Al Banna Rahimahullah (Bag. 2)

๐Ÿƒ๐ŸŒบSyarah 10 Wasiat Imam Hasan Al Banna Rahimahullah (Bag. 2)๐ŸŒบ๐Ÿƒ ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ ุงุชู„ ุงู„ู‚ุฑุงู† ุงูˆ ุทุงู„ุน ุงูˆ ุงุณุชู…ุน ุงูˆ ุงุฐูƒุฑ ุงู„ู„ู‡ ูˆ ู„ุง ุชุตุฑู ุฌุฒุก ู…ู† ูˆู‚ุชูƒ ูู‰ ุบูŠุฑ ูุงุฆุฏุฉ Bacalah Al Quran, atau menelaahnya, atau mendengarkannya, atau berdzikirlah kepada Allah, dan jangan buang waktumu sedikit pun dengan hal yang tidak bermanfaat. ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ Dalam wasiat ini ada lima nasihat Imam Al Banna kepada murid-muridnya. Kelima nasihat itu adalah: Membaca Al Quran, Menelaahnya, Mendengarkannya, Berdzikir, dan Tidak membuang waktu dengan aktifitas yang sia-sia. Kita bahas satu persatu .. 1⃣ Membaca Al Quran Bagi seorang muslim membaca Al Quran adalah terminal ruhiyah dan jiwa. Hiburan hakiki bagi orang beriman dan senandung para mujahid. Kebutuhan-kebutuhan spiritual manusia baik ketenangan, ketentraman, ketundukan, ikhlas, pasrah kepada ketetapanNya, semua bisa diraih dengan membaca Al Quran, serta merenungi kandungannya. Seandainya hanya membaca, itu pun sudah membawa manfaat bagi jiwany...