Langsung ke konten utama

"Membersamai Anak Menjadi Sahabat Al-Qur'an"

Copas pertama saya, adalah tulisan dari ustadzah Ruli... Seseorang yang pernah saya kenal dekat, subhanallah jadi kangen...   Semoga Allah melindungi dan membersamai langkah dakwahnya selalu...   Aamiin😍

Staytune🌸

Materi & Tanya Jawab Kuliah Whatsapp (Kulwap) SAQEENA Rumah Keluarga Indonesia - Sekolah Ibu Kota Bandung, Edisi Maret, Th.II

Tema: "Membersamai Anak Menjadi Sahabat Al-Qur'an"
Oleh: Ustadzah Ruli Kurnia Dwicahyani, SPd.
Ketua Penggerak Sekolah Ibu Kec.Cibeunying Kidul Kota Bandung

BAGIAN I. Materi Pengantar

Assalamualaykum. Wr. Wb.

Segala puji bagi Alloh yang telah memberikan nikmat berta'amul ma'al Qur'an kepada kita semua. Sholawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada  junjungan kita Rosululloh SAW, beserta keluarga, sahabat dan umat Islam yg istiqomah di jalan-Nya.

Bahagia sekali bisa berjumpa dengan para mujahidah dakwah di sini. Dalam kulwap edisi maret ini sy mendapat amanah untuk menyampaikan tema "Membersamai Anak Menjadi Sahabat Al-Qur'an"

Tema ini saya tulis berdasarkan pengalaman pribadi, yang sangat jauh dari teori ideal yang seharusnya kita contoh dr Rosululloh SAW.

Seharusnya membersamai anak-anak menjadi sahabat Al-Qur'an kita lakukan sebelum anak-anak ada, istiqomah, sampai kita kembali kepada-Nya. Tetapi karena kelalaian dan banyaknya dosa-dosa saya hal itu belum mampu saya lakukan. Hanya sebatas menggugurkan kewajiban terhadap Al-Qur'an saja.

Ketika saya membaca tulisan Asy syahid Sayyid Qutb dalam muqodimah fii dzilalil Qur'an beliau mengatakan. "Hidup dibawah naungan Al-Qur'an adalah suatu nikmat. Nikmat yang tidak dimengerti kecuali oleh yang merasakannya. Nikmat yg mengangkat harkat usia manusia, menjadikannya diberkahi dan menyucikannya."

Kalimat ini membuat saya gelisah. Ya! Karena saya belum merasakan nikmat itu. Kegelisahan saya semakin memuncak ketika melihat anak-anak lebih asyik nonton TV dan main game daripada berlama-lama bersama al quran. Walaupun nonton dan main gamenya hanya saat weekend karena hari biasa mereka sibuk dengan tugas-tugas akademik di sekolahnya yang seabreg belum kalau ada lomba-lomba dan olympiade. Anak-anak sangat mati-matian belajar utk jadi bintang kelas, sangat takut nilai akademiknya turun, sementara utk tilawah 1 halaman sehari saja capek katanya. Anak-anak sangat takut masuk pesantren karena khawatir kehilangan segala fasilitas yg disediakan abinya di rumah.

Kegelisahan ini setiap malam saya adukan pada Alloh. Betul-betul saya memohon ampun atas kelalaian saya. Saya betul-betul bingung harus mulai dari mana untuk merubah ini semua??? Sementara anak sulung saya waktu itu sdh mau naik kls 6 SD sebentar lagi aqil baligh. Berhari2...berbulan2....

Akhirnya seperti ada kekuatan, saya harus mulai dari diri saya sendiri. Saya harus perbaiki sikap saya terhadap Al-Qur'an. Saya datangi kembali guru tahfidz saya yang sudah lama saya tinggalkan. Saya ulangi lagi hafalan saya yang dulu saya tinggalkan dengan berbagai macam alasan yang saya buat.

Dan beberapa bulan setelah itu, anak bungsu saya tidak mau sekolah di Playgrup TK kakak-kakaknya dulu padahal sudah saya bayar lunas. Muter2 nyari TK sampai akhirnya Dek Tifa mau sekolah di TKQu Pndok Qur'an.

Setiap pulang sekolah hafalannya nambah dan disetorkan ke kakak-kakaknya sambil bilang, "adek mau jadi hafidzah duluan ya... Mau jadi ahlul Qur'an, mau menghadiahkan mahkota syurga utk abi dan ummi".

Mak jleb... Kakak-kakak jadi gerah. Hampir Tiap hari adiknya mengulang-ulang kata-kata itu, membuat telinga panas. Sampai akhirnya kls 6 semester 2  sebelum UN, sulung saya bilang, "Ummi... Aku ngga jadi ke SMP Negri aja, aku ingin menghafal Al-Qur'an." Anak yang nomor dua juga ikutan. "Aku juga mau menghafal Al-Qur'an".

Dimulailah diskusi panjang dan menegangkan dengan Abinya yang tidak setuju dgn permintaan anak-anak pindah sekolah dr yang akademik oriented ke Al-Qur'an oriented. Hampir 3 bulan tiap hari diskusi dgn Abinya. Keadaan jadi berbalik. Anak-anaklah yang mati2an meyakinkan abinya bahwa mereka bisa mengejar akademik meskipun konsentrasinya kpd Al-Qur'an.

Anak-anaklah yg memaksa abinya utk meridloi mereka berjuang menjadi ahlul Qur'an. "Abi, kenapa kami tidak boleh menghadiahkan mahkota syurga untuk Abi dan Ummi?!", begitu protes mereka. Akhirnya abinya luluh dan juli 2015 Hilyah resmi masuk SMPQu dan Ulfi pindah dari Darul Hikam ke SDQu. Dan dua-duanya minta boarding.

Sejak itulah anak-anak setiap menelepon atau dijenguk atau ketika pulang, pertanyaan yang diucapkannya "Abi sudah tilawah belum?". "Ummi aku khawatir Abi ngga bisa tilawah 1 juz sehari"

Tak terasa 1,5 tahun sudah berlalu sampai akhirnya tgl 3 Februari 2017 kemarin Mbak Hilyah, anak sulung kami menyelesaikan setoran hafalan 30juz diikuti deraian airmata dan syukur tak terkira.

Hilyah bilang "Abi, habis ini aku mau mutqin terus ambil sanad ya... Boleh ya Bi...", Lalu Abinya bilang, "Iya Mbak,  boleh, doakan abi bisa menghafal quran juga ya... "

"Abi.. Kalau mau menghafal Al-Qur'an harus ada yg kita korbankan. Aku mengorbankan sebagian waktu tidurku dan waktu mainku".

Mak jleb!. Hari itu juga abinya minta didaftarkan ke program tahfidz PQ. (Pekan ini pertemuan ke-4). Allohu Akbar!

Kisah yang saya alami ini semakin membuat saya yakin bahwa:
 1. Tidak ada yg mustahil didunia ini bila Alloh menghendaki.
 2. Tidak ada kata terlambat utk memulai.
 3. Kekuatan doa tulus seorang ibu adalah senjata kita. Selalu terngiang nasihat Ust. Jalaludin Asy-Syatibi. Bahwa berdoa utk anak-anak itu harus maksa ke Alloh. Ngotot minta dikabulkan.
 4. Khusnudzan Kita kpd Alloh. Kpd suami, kpd anak-anak.... Menjadi energi yg tidak akan pernah habis.
 5. Pertolongan Alloh itu dekat. Bagi orang-orang yang yakin.
 6. Ketika kita bersungguh sungguh Alloh akan tunjukkan jalan-jalanNya.  QS. 29:69

Ini yang bisa saya sampaikan. Saya yakin di grup ini banyak ustadzah2 yg lebih mumpuni dan tentu sudah menerapkan contoh dr Rasululloh dalam membersamai anak menjadi sahabat Al-qur'an. Kisah sy hanya sekelumit kisah seorang yg sempat lalai dan ingin bangkit memperbaiki diri dan keluarga. Kalau ada slogan "Satu keluarga, Satu hafidz". Kenapa tidak kita coba tantangan. "Satu keluarga, Semua hafidz". Semoga Alloh mengistiqomahkan kita bersama Al-Qur'an sampai akhir hayat nanti.
Aamiin.

BAGIAN 2. TANYA JAWAB

Pertanyaan 1:
Bagaimana ya mengkondisikan anak-anak cinta Alquran.Kalau baca dari materi mukadimmah harus ibunya dulu mampu memperbaiki hafalan...kalau dari sisi ini terasa berat ortunya hrs hafalan duluan. Kedua, sebaiknya anak ikut lembaga tahfidz atau disekolahkan di sekolah tahfidz? Karena kalau dari sisi biaya berasa mahal sekolah-sekolah tahfidz.

Jawab 1:
Memang anak2 tidak ujug-ujug simsalabim menjadi sahabat Al Quran, orang tuanyalah yang memang berkewajiban mendidiknya.Hal ini memang tidak mudah, harus menguatkan azzam dan berani berkorban. Sebetulnya seorang ayahlah yang bertanggungjawab atas hal ini. Tapi ketika kondisi itu tidak kita dapati. Kenapa tidak kita sebagai ibu menjadi pionir kebaikan untuk anak-anak dan suami.

Selanjutnya untuk menanamkan al quran kepada anak-anak yang lebih utama adalah penanaman di rumah. Banyak contoh yang homeschooling pun berhasil dalam pemanamkan kecintaan kepada al quran, tetapi memang diperlukan komitmen dan disiplin yang tinggi antara ortu dan anak. Seperti ananda Musa yang juara hafidz Indonesia,beliau tidak sekolah di sekolah formal, tapi ortu nya yg mendidik langsung.

Untuk kasus anak-anak saya memang tidak mau HS, makanya kemudian sekolah formal. Untuk biaya memang lebih mahal. Makanya saya praktekkan teori dari seorang ustadzah:"Itu anak-anak harus tahu biaya sekolahnya berapa, berapa gaji abinya, minta mereka komitmen dan bertanggung jawab atas pilihan mereka.

Pertanyaan 2:
Bagaimana metode yang tepat untuk anak usia prasekolah yang cocok ?

Jawab 2:
Metode untuk anak prasekolah yg lebih efektif dgn talaqqi langsung. Karena anak pra sekolah biasanya belum lancar baca quran sendiri. Jadi ziyadah dan murroja'ahnya memang harus dipandu bersama-sama ortunya.

Saya bikin MOU dengan anak saya yang TK kapan kita ziyadah kapan kita murrojaah dan kita komitmen dgn jadwal itu. Sehingga bila tiba-tiba ada temannya nyamper ngajak main. Anak saya yang TK akan bilang ke temennya "tunggu sebentar ya aku belum selesai ziyadah, 1 ayat lagi ya tolong tunggi di teras" dan teman mainnya sudah paham semua                      

Atau ketika kami sedang di perjalanan baik naik motor atau naik mobil. Anak saya sudah otomatis langsung ta'awuz dan murrojaah hafalannya. Karena ini memang MOU kami berdua.

Pertanyaan 3:
Saya membuat perjanjian juga dengan anak anak, untuk one day one ayat, Alhamdulillah anak anak sudah bisa dilepas ziyadah sendiri, hanya kendalanya kadang kalau lembur kerja atau pulang kerja makanan habis sehingga harus memasak, maka jadwal maghrib mengaji jadi berubah dan biasanya udah nggak mood baik anak maupun ibu.#alesan

Mohon perkenan Mba Ruli untuk berbagi tips dalam menjaga stamina/semangat ketika sedang down seperti itu, bagaimana agar tetap stabil?

Jawab 3:
Memang kendala itu seringkali kita temui. Saya juga kadang maghrib masih di jalan. Kalau saya menyiasatinya sambil masak sambil ajak anak murrojaah. Kadang sambil nyuci piring, beres-beres rumah dll, karena kami tidak pakai khodimat. Kalau ziyadah lebih sering pagi sebelum berangkat sekolah. Kalau putra-putrinya sudah bisa ziyadah mandiri sebenarnya itu lebih mudah. Kita tinggal cek sblm tidur.

Untuk masalah mood ini memang berbanding lurus dengan suasana hati dan keimanan kita. Sebetulnya meskipun padat kegiatan mood kita masih tetap bisa kita jaga. Saya diajari oleh guru-guru saya untuk memperbanyak istighfar. Anak saya yang TK pun pagi-pagi saat berangkat sekolah setelah ziyadah dan murrojaah dijalan selalu bilang ummi kita lanjutkan istighfar 100x. Kalau belum 100x sudah nyampe sekolah nanti pulang sekolah anak saya ngingetin Ummi tadi istighfarnya masih kurang.

Jadi sebetulnya urusan menghafal Al-Quran adalah pekerjaan hati.           Sehingga kata kholifah Usman bin Affan. "Sesungguhnya bila hati seorang mu'min itu bersih maka dia tidak akan puas bersama Al-Qur'an. (yaitu ingin berlama-lama dengan Qur'an).

Meminta kepada Alloh agar anak-anak dapat menjadi teman dalam beribadah dan berdakwah, ini yang saya dapatkan dari Ustad Jalaludin asy-Syatibi

Sekarang saya merasakan justru anak-anak yang selalu mengingatkan orangtuanya. Bila pulang, yang boarding bertanya Ummi setoran udah nyampe mana?  Ummi kenapa Al-isro nya lama belum beres-beres. Semoga dimudahkan Alloh ya Ummi...

Pertanyaan 4:
Agar anak dapat mandiri, bagaimana cara mendidiknya? Misal dari usia berapa kita biarkan mereka mengerjakan ini itu sendiri?

Jawab 4:
Anak-anak mulai sekolah sudah saya biasakan ada MoU. Ditulis ditanda tangani di tempel. Sehingga tidak ada lagi teriakan-teriakan, marah-marah....  Awalnya memang tidak mudah. Saat anak merengek bahkan guling-guling. Abinya suka ga tega. Udah kasih aja katanya. Kalau udah kaya gitu biasanya saya peluk lama anak-anak. Nanti lama-lama reda dan akan rela pada MoU kami.

MoU tersebut berisi kesepakatan-kesepakatan apa saja yang perlu disepakati. Seperti waktu belajar, waktu bermain. Tidak rewel saat belajar, atau ngerjain PR dll. Pernah anak yg ke-2 waktu kelas 1 rewel saat ngerjain PR. Besok pagi nya dia tidak dapat uang saku. Dia nangis guling-guling mau  uang saku 2rb  karena udah janji mau traktir teman. Abinya udah ngga sabar ini nanti telat ke kantor. Lalu saya peluk anak saya. Saya persilahkan tetap sekolah dengan tanpa uang saku atau belajar di rumah bersama ummi. Dan dia milih tetap sekolah setelah reda nangisnya. Sehingga kalau neneknya datang..ooh tumben kok ngga nangis guling-guling lagi.... Dia bilang ah percuma mbah putri... Guling-guling juga ummi ga akan bergeming jadi ngga usah nangis aja

Kalau anak memenuhi MoU tentu ada rewardnya. Tidak hrs berupa materi.kadang ummi harus bikin dongeng. Bacain buku cerita, dll.

-Selesai-

Semoga ada manfaatnya. Kuliah Whatsapp (Kulwap) SAQEENA Dipersembahkan oleh:
Rumah Keluarga Indonesia (RKI) Kota Bandung
Sekolah Ibu Pusat Kota Bandung
Pemesanan Buletin cetak SAQEENA kontak 0821-32-883377
www.facebook.com/rkisekolahibu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Diri

KISAH DIRI Bismillah..  Dari Abdullah bin Mas’udz, beliau menceritakan bahwa Rasulullah ` tidur di atas tikarnya.  Tikar itu pun membekas di lambung beliau yang mulia.  Para shahabat mengatakan, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika kami buatkan kasur untukmu?” Beliau ` pun menjawab:   :مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا“  "Apa urusanku dengan dunia?! Tidaklah aku di dunia ini kecuali hanyalah seperti musafir yang bernaung di bawah pohon lalu pergi meninggalkannya.” [H.R. At-Tirmidzi].   Wahai diriku,   Hidup yang singkat ini   Pergunakanlah sebaik mungkin   Nikmatilah dengan kesyukuran Rangkailah dengan kebaikan Insafi dengan penyesalan  Wahai diri,  Hidup sekalimu  Harus ditujukan untuk pemilikmu Allah SWT  Kan sia-sia bila hanya untuk dunia   Ingat hidup adalah perjalanan Menuju akhe...

Mengeluh dan Bersyukur

"Ketika Mengeluh Tandanya Kurang Bersyukur" Manusia memiliki sifat berkeluh kesah, apapun yang dijalani pasti ada keluh dibaliknya. Namun... pernahkah kita menyadari bahwa keluh itu membuat kita kurang bersyukur kepada nikmat yang telah diberikan Allah SWT??? Allah telah memberikan rezeki, namun masih saja mengeluh, "Andai uang saya lebih banyak ... hm, pasti menyenangkan bisa beli ini dan itu." Allah sudah memberikan pasangan, "Sebel ih sama Abi... dikit-dikit ngatur, pengennya menang sendiri!" Harusnya kita bersyukur masih Allah berikan pasangan... karena banyak yang mendamba tapi belum datang jua. "Aduhhh, bisa diam gak sih? Mamah udah capek tau!" Teriak pada anaknya yang masih balita, padahal banyak pasangan yang ingin punya keturunan. Harusnya kita lebih baik lagi bersikap pada anak kita. Yang berarti itu bukti syukur kita pada Allah. Masih banyak contoh lain dari keluhan-keluhan yang keluar dari kulit kita tanpa disadari it...

10 Wasiat Imam Hasan Al Banna Rahimahullah (Bag. 2)

🍃🌺Syarah 10 Wasiat Imam Hasan Al Banna Rahimahullah (Bag. 2)🌺🍃 🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾 اتل القران او طالع او استمع او اذكر الله و لا تصرف جزء من وقتك فى غير فائدة Bacalah Al Quran, atau menelaahnya, atau mendengarkannya, atau berdzikirlah kepada Allah, dan jangan buang waktumu sedikit pun dengan hal yang tidak bermanfaat. 🌸🌸🌸🌸🌸 Dalam wasiat ini ada lima nasihat Imam Al Banna kepada murid-muridnya. Kelima nasihat itu adalah: Membaca Al Quran, Menelaahnya, Mendengarkannya, Berdzikir, dan Tidak membuang waktu dengan aktifitas yang sia-sia. Kita bahas satu persatu .. 1⃣ Membaca Al Quran Bagi seorang muslim membaca Al Quran adalah terminal ruhiyah dan jiwa. Hiburan hakiki bagi orang beriman dan senandung para mujahid. Kebutuhan-kebutuhan spiritual manusia baik ketenangan, ketentraman, ketundukan, ikhlas, pasrah kepada ketetapanNya, semua bisa diraih dengan membaca Al Quran, serta merenungi kandungannya. Seandainya hanya membaca, itu pun sudah membawa manfaat bagi jiwany...