Setelah belajar di kampus Super Writer 5 dengan berbagai keseruannya (In syaa Allah nanti diceritakan.. ;) )
Sekarang ikut grup penulis, belajar kembali menuangkan ide yang ada dikepala. Tantangannya menulis setiap hari dengan satu judul, jadi ceritanya bersambung nantinya menjadi tulisan utuh.
Baiklah kita mulai ^^
Bismillah...
(Part.1)
#hujankaryaH1
15 Juni 2016
(Part.2)
#hujankaryaH2
(Part.3)
Seorang akhwat pengantin baru, mengalami mual dan pusing yang begitu terasa, pada 2 bulan pernikahannya lalu ia pergi memeriksakan diri ke dokter. Saran dokter agar cek lab.
Membawa surat pengantar dari dokter, ia pun disuruh menampung urin dan menunggu beberapa saat. Tak lama kemudian petugas lab menyerahkan hasilnya, dan ia mendapatkan bahwa dirinya tengah hamil.
"Alhamdulillah" Ucapnya perlahan, segera ia menyampaikan berita gembira ini pada suaminya. Mereka takjub karena Allah langsung memberikan amanah yang luar biasa.
Dan sepekan lagi Ramadhan tiba, menambah bahagia pasangan muda ini dengan kehadiran janin hasil buah cinta mereka.
Akhwat ini bersemangat sekali ingin shaum di bulan Ramadhan, namun tiap hari tak ada makanan yang bisa masuk, semua pasti dimuntahkan kembali karena mual.
Membuat tubuhnya lemas, tapi ia bersikukuh untuk shaum, alhasil lemas sekali malah tidak bisa mengerjakan apapun selain berbaring.
Usia kandungannya baru 4 minggu, usia yang riskan apalagi dibawa shaum. Ia pun menyerah dan merasa sangat sedih dengan kondisinya, ia harus berbuka dan berusaha makan agar janinnya sehat.
Ini membuatnya tak bersemangat, hari-harinya bagai tak bisa ia nikmati, Ramadhan pun tak bisa ia rasakan indahnya.
Akhirnya suaminya menguatkan, bahwa apa yang dirasakan adalah anugerah, harus tetap disyukuri, dijalani dengan ikhlas agar bisa terasa indah.
"Tenang saja, nanti Aa bayarkan fidyahnya, yang penting bayi kita sehat ya sayang, " Ujar suaminya menenangkan.
Alhamdulillah, suami yang pengertian, ia pun berusaha bangkit memulai tilawah walau dengan bersandar atau berbaring. Lalu membaca shirah shahabiyah yang bisa membuatnya semangat!!
Ramadhan jadi indah walau tidak shaum ^^
#bersambung
#hujankaryaH3
17Juni 2016
(Part.4)
#hujankaryaH4
18 Juni 2016
(Part.5)
#hujankaryaH5
19 Juni 2016
15 Ramadhan 1437H
20 Juni 2016
Miya Cahaya
@catat_hikmah
Sekarang ikut grup penulis, belajar kembali menuangkan ide yang ada dikepala. Tantangannya menulis setiap hari dengan satu judul, jadi ceritanya bersambung nantinya menjadi tulisan utuh.
Baiklah kita mulai ^^
![]() |
"Muslimah dan Ramadhan"
Oleh: Miya Cahaya
(Part.1)
Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa didalamnya begitu banyak keberkahan, rahmat dan ampunan Allah SWT.
Tentu kita sangat ingin melaluinya dengan penuh amal ibadah, sehingga Ramadhan bisa menghantarkan diri menjadi lebih baik lagi.
Saya akan mengupas serba - serbi muslimah (wanita islam ) menjalankan ibadah di bulan ramadhan ini karena muslimah juga istimewa, lebih banyak cerita dibandingkan muslim (pria islam ).
Terkait dengan fitrah sebagai seorang wanita, yakni datang bulan (haidh ), nifas, hamil dan menyusui. Yang tentunya menjadi "penghalang" sekaligus mempengaruhi kondisi hati muslimah untuk beribadah di bulan Ramadhan.
Nah, mari kita simak bersama kisah para muslimah ini....
#bersambung Tentu kita sangat ingin melaluinya dengan penuh amal ibadah, sehingga Ramadhan bisa menghantarkan diri menjadi lebih baik lagi.
Saya akan mengupas serba - serbi muslimah (wanita islam ) menjalankan ibadah di bulan ramadhan ini karena muslimah juga istimewa, lebih banyak cerita dibandingkan muslim (pria islam ).
Terkait dengan fitrah sebagai seorang wanita, yakni datang bulan (haidh ), nifas, hamil dan menyusui. Yang tentunya menjadi "penghalang" sekaligus mempengaruhi kondisi hati muslimah untuk beribadah di bulan Ramadhan.
Nah, mari kita simak bersama kisah para muslimah ini....
#hujankaryaH1
15 Juni 2016
(Part.2)
Kisah pertama yaitu seorang remaja SMA yang aktif di kegiatan ROHIS,
Ramadhan adalah bulan yang sangat dinantinya. Ia selalu merindukan
bulan penuh kemuliaan ini, tapi gundah kerap kali menghampiri nya.
Karena siklus haidnya bisa dua pekan dalam sebulan, ini membuatnya BT, galau dan ga nyaman. Ia sering nangis ketika haid datang, banyak amalan yang tidak bisa ia lakukan. Ia pun sering merasa kesakitan di awal haidnya.
Fitrah ini membuatnya tersiksa, tak ada senyum indah menghiasi bibirnya, kelam rasa hatinya.
Sempat ia "protes" pada Allah, mengapa harus ia yang mengalami ini? haid dua pekan? Ia kembali sedih dan menangis, "Allah tidak adil!!" Ujarnya.
Sebuah prasangka yang buruk sekali, tapi ia lontarkan.
Ia menjalani hari-hari haidnya dengan hampa, serasa tak ada lagi kebaikan yang bisa dilakukan!
Tilawah dengan targetannya hilang entah kemana, tarawih dengan teman-teman tak mungkin dilakukan, BT!!
Hingga suatu hari ia diamanahi menjadi seksi acara di sebuah sanlat akhir ramadhan dan ia mendengar sebuah ceramah dari seorang ustadzah tentang amalan muslimah yang sedang haid selama Ramadhan.
Diantaranya, banyak hapalan Qur'an, membantu ibu menyiapkan sahur dan buka, senantiasa menolong kesulitan orang, berbuat baik kepada siapapun, dan masih banyak lagi hal yang bisa dilakukan untuk mengisi Ramadhan bagi yang sedang haid.
Ia pun terinspirasi untuk melaksanakan nya, Alhamdulillah kini ketika Ramadhan dan haidnya datang, ia sambut dengan senyuman :)
#bersambungKarena siklus haidnya bisa dua pekan dalam sebulan, ini membuatnya BT, galau dan ga nyaman. Ia sering nangis ketika haid datang, banyak amalan yang tidak bisa ia lakukan. Ia pun sering merasa kesakitan di awal haidnya.
Fitrah ini membuatnya tersiksa, tak ada senyum indah menghiasi bibirnya, kelam rasa hatinya.
Sempat ia "protes" pada Allah, mengapa harus ia yang mengalami ini? haid dua pekan? Ia kembali sedih dan menangis, "Allah tidak adil!!" Ujarnya.
Sebuah prasangka yang buruk sekali, tapi ia lontarkan.
Ia menjalani hari-hari haidnya dengan hampa, serasa tak ada lagi kebaikan yang bisa dilakukan!
Tilawah dengan targetannya hilang entah kemana, tarawih dengan teman-teman tak mungkin dilakukan, BT!!
Hingga suatu hari ia diamanahi menjadi seksi acara di sebuah sanlat akhir ramadhan dan ia mendengar sebuah ceramah dari seorang ustadzah tentang amalan muslimah yang sedang haid selama Ramadhan.
Diantaranya, banyak hapalan Qur'an, membantu ibu menyiapkan sahur dan buka, senantiasa menolong kesulitan orang, berbuat baik kepada siapapun, dan masih banyak lagi hal yang bisa dilakukan untuk mengisi Ramadhan bagi yang sedang haid.
Ia pun terinspirasi untuk melaksanakan nya, Alhamdulillah kini ketika Ramadhan dan haidnya datang, ia sambut dengan senyuman :)
#hujankaryaH2
(Part.3)
Seorang akhwat pengantin baru, mengalami mual dan pusing yang begitu terasa, pada 2 bulan pernikahannya lalu ia pergi memeriksakan diri ke dokter. Saran dokter agar cek lab.
Membawa surat pengantar dari dokter, ia pun disuruh menampung urin dan menunggu beberapa saat. Tak lama kemudian petugas lab menyerahkan hasilnya, dan ia mendapatkan bahwa dirinya tengah hamil.
"Alhamdulillah" Ucapnya perlahan, segera ia menyampaikan berita gembira ini pada suaminya. Mereka takjub karena Allah langsung memberikan amanah yang luar biasa.
Dan sepekan lagi Ramadhan tiba, menambah bahagia pasangan muda ini dengan kehadiran janin hasil buah cinta mereka.
Akhwat ini bersemangat sekali ingin shaum di bulan Ramadhan, namun tiap hari tak ada makanan yang bisa masuk, semua pasti dimuntahkan kembali karena mual.
Membuat tubuhnya lemas, tapi ia bersikukuh untuk shaum, alhasil lemas sekali malah tidak bisa mengerjakan apapun selain berbaring.
Usia kandungannya baru 4 minggu, usia yang riskan apalagi dibawa shaum. Ia pun menyerah dan merasa sangat sedih dengan kondisinya, ia harus berbuka dan berusaha makan agar janinnya sehat.
Ini membuatnya tak bersemangat, hari-harinya bagai tak bisa ia nikmati, Ramadhan pun tak bisa ia rasakan indahnya.
Akhirnya suaminya menguatkan, bahwa apa yang dirasakan adalah anugerah, harus tetap disyukuri, dijalani dengan ikhlas agar bisa terasa indah.
"Tenang saja, nanti Aa bayarkan fidyahnya, yang penting bayi kita sehat ya sayang, " Ujar suaminya menenangkan.
Alhamdulillah, suami yang pengertian, ia pun berusaha bangkit memulai tilawah walau dengan bersandar atau berbaring. Lalu membaca shirah shahabiyah yang bisa membuatnya semangat!!
Ramadhan jadi indah walau tidak shaum ^^
#bersambung
#hujankaryaH3
17Juni 2016
(Part.4)
Melahirkan adalah proses yang penuh "kenikmatan", segala peluh dan
usaha dikerahkan agar dapat melihat bayi yang selama 9 bulan
dikandungnya.
Rasa rindu menyeruak, menghilangkan sejuta cemas dan pedih.
Cerita part.4 ini adalah kisah seorang ibu yang melahirkan di bulan Ramadhan.
Sungguh sangat bahagia pasangan muda ini, anak pertamanya seorang bayi laki-laki, sehat, normal, tangisannya kencang menandakan jantung nya sehat. Alhamdulillah.
Dibalik kebahagiaan mereka ada tanggung jawab yang besar yang telah hadir, seorang anak manusia.
Di awal kehidupan seorang bayi tidaklah mudah, sang bayi baru merasakan udara dunia yang tidak sama dengan nyamannya air ketuban di dalam rahim.
Sang bayi pun belum paham waktu ia tidur atau bangun, yang ia lakukan hanya menangis jika ada yang tak nyaman.
Hal ini membutuhkan kesabaran tingkat tinggi dari kedua orang tua, tidak hanya ibunya tapi ayahnya juga. Bila hanya sepihak, misalkan ayahnya tidak peduli, maka ibunya bisa terkena baby blues dan itu membahayakan semua pihak.
Pasangan muda ini 4 bulan tidak bisa tidur nyenyak di malam hari, karena sang bayi menangis tak jelas alasannya, semua hal sudah dilakukan, pipis ganti popok, ee ganti popok, haus di susui, masih saja nangis, digendong di ayun-ayun, baru diam.
Dengan mata 5 watt sang ibu tetap sabar, ayah juga demikian tak tega melihat istrinya repot sendiri, ia tetap bangun sambil bersenandung atau bertilawah membaca surat-surat pendek untuk anaknya.
Terkadang mereka gantian shift tidur, hanya menyusui yang tak bisa digantikan, he.
Dan itu terjadi di bulan Ramadhan, terbayang kelelahan yang dialami pasangan muda ini, terlebih sang istri yang harus stand by membersamai bayinya.
Sang ayahpun di kantor seringkali ketiduran, ada waktu luang sedikit tidur, di mushola selesai shalat dzuhur tidur lagi, begitulah perjuangan.
Ramadhan pun terasa sangat lelah, bagi ayah masih bisa shalat dan tadarus untuk mengisi ruhnya. Nah, sang ibu tak bisa begitu, ia nifas tidak shalat & tadarus.
Ramadhan terasa hilang dari hidupnya.. Ia sibuk dengan rutinitas mengurusi bayinya saja, capek minta ampun.
Akhirnya curhat juga ia pada suaminya, "Bang, adek merasa capek sekali, ruhiyah pun turun drastis. Ramadhan terasa tiada, hiks. Adek bukan mengeluh, hanya saja adek ingin ruhiyah ini tetap terisi."
Suaminya menjawab,"Abang sangat mengerti, tapi kita harus bersyukur karena kita diberikan anak di bulan ini, dan untuk mengisi ruhiyah nanti abang downloadkan ceramah-ceramah dan nasyid-nasyid yang bagus ya."
"Baiklah bang, adek juga ingin hapalan bertambah, abang mau kan menyimaknya?" Ujarnya.
"Siaplah dek, supaya anak kita juga mendengar. Nanti kalau dia nangis kita senandungkan hapalan kita." jawab suaminya.
Jadilah mereka berdua saling memahami dan mengerti, menyiasati kondisi fitrah yang tidak diinginkan. Memang membutuhkan kondisi hati dan pikiran yang dingin, akhirnya Ramadhan nya tak jadi tiada. Alhamdulillah :D
#bersambung Rasa rindu menyeruak, menghilangkan sejuta cemas dan pedih.
Cerita part.4 ini adalah kisah seorang ibu yang melahirkan di bulan Ramadhan.
Sungguh sangat bahagia pasangan muda ini, anak pertamanya seorang bayi laki-laki, sehat, normal, tangisannya kencang menandakan jantung nya sehat. Alhamdulillah.
Dibalik kebahagiaan mereka ada tanggung jawab yang besar yang telah hadir, seorang anak manusia.
Di awal kehidupan seorang bayi tidaklah mudah, sang bayi baru merasakan udara dunia yang tidak sama dengan nyamannya air ketuban di dalam rahim.
Sang bayi pun belum paham waktu ia tidur atau bangun, yang ia lakukan hanya menangis jika ada yang tak nyaman.
Hal ini membutuhkan kesabaran tingkat tinggi dari kedua orang tua, tidak hanya ibunya tapi ayahnya juga. Bila hanya sepihak, misalkan ayahnya tidak peduli, maka ibunya bisa terkena baby blues dan itu membahayakan semua pihak.
Pasangan muda ini 4 bulan tidak bisa tidur nyenyak di malam hari, karena sang bayi menangis tak jelas alasannya, semua hal sudah dilakukan, pipis ganti popok, ee ganti popok, haus di susui, masih saja nangis, digendong di ayun-ayun, baru diam.
Dengan mata 5 watt sang ibu tetap sabar, ayah juga demikian tak tega melihat istrinya repot sendiri, ia tetap bangun sambil bersenandung atau bertilawah membaca surat-surat pendek untuk anaknya.
Terkadang mereka gantian shift tidur, hanya menyusui yang tak bisa digantikan, he.
Dan itu terjadi di bulan Ramadhan, terbayang kelelahan yang dialami pasangan muda ini, terlebih sang istri yang harus stand by membersamai bayinya.
Sang ayahpun di kantor seringkali ketiduran, ada waktu luang sedikit tidur, di mushola selesai shalat dzuhur tidur lagi, begitulah perjuangan.
Ramadhan pun terasa sangat lelah, bagi ayah masih bisa shalat dan tadarus untuk mengisi ruhnya. Nah, sang ibu tak bisa begitu, ia nifas tidak shalat & tadarus.
Ramadhan terasa hilang dari hidupnya.. Ia sibuk dengan rutinitas mengurusi bayinya saja, capek minta ampun.
Akhirnya curhat juga ia pada suaminya, "Bang, adek merasa capek sekali, ruhiyah pun turun drastis. Ramadhan terasa tiada, hiks. Adek bukan mengeluh, hanya saja adek ingin ruhiyah ini tetap terisi."
Suaminya menjawab,"Abang sangat mengerti, tapi kita harus bersyukur karena kita diberikan anak di bulan ini, dan untuk mengisi ruhiyah nanti abang downloadkan ceramah-ceramah dan nasyid-nasyid yang bagus ya."
"Baiklah bang, adek juga ingin hapalan bertambah, abang mau kan menyimaknya?" Ujarnya.
"Siaplah dek, supaya anak kita juga mendengar. Nanti kalau dia nangis kita senandungkan hapalan kita." jawab suaminya.
Jadilah mereka berdua saling memahami dan mengerti, menyiasati kondisi fitrah yang tidak diinginkan. Memang membutuhkan kondisi hati dan pikiran yang dingin, akhirnya Ramadhan nya tak jadi tiada. Alhamdulillah :D
#hujankaryaH4
18 Juni 2016
(Part.5)
Sebagai seorang wanita, adalah kebahagiaan tersendiri karena banyaknya keistimewaan yang diberikan Allah SWT.
Tidak mengeluh atas fitrah yang dimiliki lalu belajar ikhlas dengan ketentuan Allah atas dirinya merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah.
Muslimah menjalankan ibadah di bulan Ramadhan dengan penuh kesyukuran dan keikhlasan adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan, mengisinya dengan berbagai kebaikan.
Menyiapkan buka dan sahur, mendidik anak-anaknya, merawat orang tuanya, meladeni suaminya dengan ikhlas akan membawa kebahagiaan untuknya dan keluarga.
Apalagi bisa aktif diluar bersama masyarakatnya, menghidupkan pengajian, membuat acara sosial dan lainnya. Bisa menambah kebahagiaan tersendiri bagi seorang muslimah.
Semua kisah yang saya sajikan merupakan kisah yang saya ambil dari pengalaman pribadi dan orang-orang terdekat yang pernah ada.
Semoga bisa diambil hikmah dan manfaatnya bagi kita semua, khususnya para muslimah.
Mari kita tunaikan Ramadhan dengan sebaik-baiknya, dengan keterbatasan kita, dengan penuh suka cita.
Raih kebahagiaan di bulan Ramadhan dengan ikhlas dan syukur. In syaa Allah
Tidak mengeluh atas fitrah yang dimiliki lalu belajar ikhlas dengan ketentuan Allah atas dirinya merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah.
Muslimah menjalankan ibadah di bulan Ramadhan dengan penuh kesyukuran dan keikhlasan adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan, mengisinya dengan berbagai kebaikan.
Menyiapkan buka dan sahur, mendidik anak-anaknya, merawat orang tuanya, meladeni suaminya dengan ikhlas akan membawa kebahagiaan untuknya dan keluarga.
Apalagi bisa aktif diluar bersama masyarakatnya, menghidupkan pengajian, membuat acara sosial dan lainnya. Bisa menambah kebahagiaan tersendiri bagi seorang muslimah.
Semua kisah yang saya sajikan merupakan kisah yang saya ambil dari pengalaman pribadi dan orang-orang terdekat yang pernah ada.
Semoga bisa diambil hikmah dan manfaatnya bagi kita semua, khususnya para muslimah.
Mari kita tunaikan Ramadhan dengan sebaik-baiknya, dengan keterbatasan kita, dengan penuh suka cita.
Raih kebahagiaan di bulan Ramadhan dengan ikhlas dan syukur. In syaa Allah
Alhamdulillah
#tamat#hujankaryaH5
19 Juni 2016
Alhamdulillah, selesai juga.. katanya harus punya waktu khusus untuk menulis, iya sih betul. walaupun hanya 10 menit sehari tapi kalau disempatkan pasti jadi suatu karya.
Mari menulis lagi dan lagi, sambil terus belajar menulis yang bagus.. padahal saya juga belum bisa bagus, he. Makanya belajar terus. Semangat!!!
15 Ramadhan 1437H
20 Juni 2016
Miya Cahaya
@catat_hikmah

Komentar
Posting Komentar