Langsung ke konten utama

Antara Full Time Mother dan Work Mother

FTM, FTWM, FTF, WM




Ibu, Mama, Momy, Umi, Mother.. adalah kata yang menggambarkan seorang wanita yang telah berkeluarga dan memiliki anak. Sehingga memperoleh gelar dan sebutan demikian, maknanya begitu dalam mulai dari pendamping hidup seorang pria, pengurus rumah tangga, pelahir generasi, madrasah pertama bagi anaknya, semua terangkum di dalamnya.

Semakin berkembangnya zaman , semakin berkembang pula peran seorang ibu selain makna aslinya, ibu juga bisa berkiprah di luar tugas utamanya. Banyak kita kenal dengan istilah WM (Working Mother), ibu yang bekerja di luar rumah. Sedangkan untuk ibu yang senantiasa berada di rumah dan menggunakan seluruh waktunya untuk mendidik anak dan megurusi rumah tangga disebut dengan istilah FTM ( Full Time Mother )

Saya mencari informasi dan pendapat mengenai WM dan FTM agar tidak subjektif dalam menilai sebuah peran.  Dimulai dengan pertanyaan:
FTM/ WM ya?
Idealnya yang mana?
Bagaimana mengatasi kejenuhan ketika menjadi FTM?

Jawaban-jawabannya..

FTM/ WM ya?

Memilih FTM karena:
·   Seorang ibu itu madrasatul ‘ula (madrasah pertama) bagi anak-anaknya.
·  Ingin sepenuhnya mengurusi anak sendiri, menjadikannya shaleh/ shaleha itu bukan proses yang mudah, dibutuhkan waktu yang penuh.
· Tidak tega kalau harus menitipkannya pada pengasuh, karena pola asuh si pengasuh sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak.
·  Ingin membentuk anak sesuai dengan kepribadian islam, yang membutuhkan contoh nyata langsung dari orang terdekatnya yaitu ibunya. Bukan dari keluarga yang lain apalagi dari pengasuhnya yang berpendidikan rata-rata lebih rendah.
·  Buah dari pendidikan itu nanti nanti dimasa depan tidak bisa ditagih bulanan seperti gaji dan orang-orang besar lahir dari ibu yang hebat.
·  Di rumah juga seorang ibu sudah menjadi WM, dengan mengatur kebutuhan RT, mendidik anak dan melayani suami, itu bukan pekerjaan yang ringan dibutuhkan konsentrasi dan tenaga yang banyak. Sehingga pahala nya pun sangat besar, jadi muncul singkatan baru FTWM (Full Time Work Mother), he…
·  Ingin terus membimbing dan mengawasi perkembangan anak secara langsung dan berperan didalamnya.
·  Waktu bersama anak adalah sangat berharga dan tak akan berulang, sehingga sebagai ibu harus menjadi pemeran utama membersamai nya dengan penuh kasih sayang.
·  Ada juga seorang ayah (single father) yang rela meninggalkan pekerjaannya untuk full mengurus anaknya dirumah dan memilih bekerja part time dari rumah, subhanallah. Jadi ada lagi singkatan baru FTF (Full Time Father), karena sangat menyadari usia balita sang anak adalah masa tak tergantikan.

Memilih WM, karena:
·  Seorang ibu yang memang harus bekerja untuk sebuah alasan tetap dapat menjalankan fungsi nya sebagai ibu di rumah selama dilakukan dengan proporsional, seimbang antara kerjaan dan rumah.
·  Biasanya anak-anak lebih mandiri dan tidak manja, lebih siap untuk sekolah dan beraktivitas tanpa ibunya.

Idealnya yang mana?

FTM, dengan alasan-alasan diatas
WM, dengan alasan diatas juga
Relatif, FTM/ WM masing-masing akan menganggap dirinya ideal dan memang terbukti demikian. Yang perlu diperhatikan adalah sejauh mana seoptimal apa FTM/ WM menjalankan fungsinya, tentunya atas kesepakatan bersama dan dukungan suami tercinta.

Bagaimana mengatasi kejenuhan ketika menjadi FTM?
Bagi sebagian ibu yang selalu aktif alias ga bisa diem, adakalanya kejenuhan melanda ketika menjalani FTM. Oleh karena itu dibutuhkan variasi bisa saja dengan bisnis kecil-kecilan, aktif di komunitas ibu dan anak, buka perpustakaan kecil untuk anak-anak tetangga, jadi penulis, dan lain-lain. Yang penting tetap bersama anak, apapun yang dilakukan.

Anak tetap jadi prioritas utama dan kejenuhan sirna, begitu katanya pemirsa :) 

FTM itu mulia teman, dia rela meninggalkan karir nya untuk keluarga kecilnya menyempurnakan kebahagiaan anak dan suami.

FTM itu sebenarnya didamba, banyak WM yang merasa ‘feeling guilty’ karena harus meninggalkan anaknya bekerja dalam keadaan sakit, tidak bisa menemani main anaknya, anaknya lebih memilih pengasuhnya ketika menangis dibanding ibunya sendiri, tidak bisa melihat pertunjukan anaknya di sekolah karena harus bekerja, dan lain sebagainya.

Jawaban – jawaban menunjukan bagaimana beragamnya pendapat yang didasari oleh latar belakang nya baik sebagai FTM maupun WM. Jalan hidup memang tidak bisa terduga karena semua adalah takdir Allah SWT, hanya saja kita bisa memilih menjalankan takdir dengan bahagia atau sedih. Ya kan?


Sebelum ditutup, ada pandangan para ahli agama Islam dulu ya.. siapa tau bisa menambah ilmu kita mengenai diri kita, IBU..

Sebagai muslimah, kita perlu terus memperkaya diri dengan ilmu yang berasal dari Quran dan Hadist agar dapat memilah dan memilih informasi yang benar dan bermanfaat bagi diri dan keluarga. Tugas utama manusia adalah untuk beribadah kepada Allah Swt., dan ini berlaku untuk lelaki maupun wanita.
Dan bagi wanita muslimah ketika telah berkeluarga tugas utamanya adalah melayani suami, melahirkan dan merawat serta mendidik anak-anak, dan menjaga rumah, harta dan kehormatan suami. Para ulama berpendapat bahwa melakukan pekerjaan rumah tidak merupakan kewajiban bagi istri, tetapi hal itu dianjurkan sebagaimana kebiasaan yang berlaku dan istri mendapat pahala dengan mengerjakan pekerjaan rumah secara ikhlas.
Islam tidak melarang seorang wanita untuk bekerja, namun ada beberapa kekhawatiran seiring dengan semakin banyaknya wanita yang memutuskan untuk tetap bekerja dan mengejar karir di luar rumah. Beberapa dampak negatif yang timbul diantaranya keluarga terpecah karena suami istri sibuk bekerja dan anak-anak menjadi terlantar, istri menjadi terlalu lelah karena konsentrasi yang terbagi antara beban pekerjaan di luar rumah dan juga dirumah, banyak penelitian mengungkap salah satu pemicu angka perceraian meningkat adalah kerena wanita terlalu sibuk di luar rumah sehingga mengabaikan urusan rumah tangga dan memicu pertikaian, angka pengangguran lelaki yang meningkat, dan tersebarnya fenomena kerusakan sosial di masyarakat.
Sebelum memutuskan untuk bekerja di luar rumah, ada baiknya melihat pada beberapa faktor syar’i yang mendorong seorang muslimah untuk bekerja di luar rumah antara lain:
·         Suami kesulitan memberi nafkah istri dan keluarga. Syariat memberi pilihan bagi istri yang suaminya tidak mampu memberi nafkah antara mengajukan fasakh atau tetap bertahan sebagai istri, seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Istri yang memilih mempertahankan kehidupan suami istri terpaks harus bekerja untuk mendapatkan materi sebagai penopang kehidupannya dan juga keluarga.
·         Suami dengan pendapatan terbatas sementara istri tidak bisa bekerja karena sibuk membangun kehidupan mulia bersama anak-anak. Akhirnya kondisi ini mendorong istri bekerja untuk mendapatkan materi yang bisa meningkatkan taraf hidup pribadi dan keluarga atas kerelaan hatinya.
·         Istri memiliki utang yang harus dilunasi sehingga istri terdorong bekerja demi mendapatkan uang untuk menutup utang tersebut.
Selain itu, bagi seorang muslimah ada kaidah-kaidah syar’i yang perlu diperhatikan ketika bekerja di luar rumah untuk menghindari berbagai sisi negatif:
·         Mengenakan pakaian syar’i yang diwajibkan Allah untuk menutupi aurat serta menjaga kehormatan dan kemuliaan
·         Tempat kerja tidak membaur dengan kaum lelaki dalam bentuk yang bisa menimbulkan kerusakan. Sementara jika berinteraksi dengan kaum lelaki namun tetap mengindahkan kaidah-kaidah syar’i, hukumnya tidak apa-apa, dengan catatan si wanita tidak berhadapan langsung dengan lelaki.
·         Pekerjaan yang dilakukan harus halal dan tidak bertentangan dengan nash-nash syariat. Misalnya, mereka tidak boleh bekerja di bank-bank ribawi atau bekerja di tempat-tempat pemicu perbuatan keji, maksiat dan lainnya yang diharamkan Allah.
·         Suami tahu si istri bekerja di tempatnya, tidak boleh keluar meninggalkan tempat kerja tanpa izin suaminya. Hal ini tidak mesti suami tahu setiap hari, tetapi cukup dengan izin secara umum sebelumnya.
·         Harus mengindahkan etika-etika Islami dalam berinteraksi dengan orang lain. Misalnya menjawab salam, menundukkan pandangan, tidak menggunjing orang lain, menghindari berduaan dengan lelaki yang bukan mahram, saat bicara harus tegas tanpa dibuat-buat atau dengan tutur kata lembut saat berbicara dengan lelaki.
·         Bertakwa kepada Allah dalam melakukan pekerjaa dengan menunaikannya secara baik karena pekerjaan yang ditugaskan merupakan amanat.
·         Sebelum keluar meninggalkan rumah harus memastikan makanan untuk anak-anak dan siapa yang menjaga mereka. Misalnya, dititipkan pada keluarga atau orang yang dikenal yang bisa dipastikan anak-anak aman selama si ibu bekerja. Atau dititipkan pada pembantu dengan catatan si pembantu harus bisa dipercaya dan amanah. Atau menitipkan ke lembaga pendidikan dan tempat-tempat pengasuhan anak yang terpercaya. Hal tersebut untuk menghindari apa yang dikatakan Rasulullah: “Cukuplah dosa bagi seseorang dengan menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.”
·         Harus mendapatkan izin suami untuk pergi bekerja. Terlebih ketika suami tergolong kaya dan mampu memberi nafkah. Lain soal ketika suami miskin dan tidak mampu memberi nafkah, saat itu suami tidak boleh melarang istrinya bekerja.
·         Harus menunaikan hak suami di rumah. Bekerja di luar tidak boleh membuat istri lalai dalam menunaikan hak suami, misalnya tidak pulang dalam jangka waktu lama saat suami berada di rumah. Khususnya ketika suami sangat memerlukan keberadaannya.
Jika syarat-syarat yang disebutkan diatas telah terpenuhi, maka sah-sah saja bekerja di luar rumah tanpa resiko apapun. Ketika seorang istri bekerja, ia akan memiliki penghasilan sendiri dan penghasilan yang dimiliki oleh istri adalah hak sepenuhnya istri untuk menggunakannya, karena kewajiban untuk memberikan nafkah hanya ada pada suami. Namun, istri yang memberikan penghasilannya untuk keperluan keluarga dan rumah tangga terhitung sebagai sedekah. Dan jika ada kesepakatan antara suami istri untuk turut bersama memenuhi kebutuhan keluarga di atas prinsip kasih sayang adalah solusi yang terbaik.
Sekarang ini, banyak sekali peluang pekerjaan bagi wanita, namun tidak sedikit pula peluang-peluang bisnis yang dapat dikerjakan di rumah. Untuk itu, mari sama-sama kembali meluruskan niat ketika harus meninggalkan keluarga dan bekerja di luar rumah untuk benar-benar membantu suami dan meningkatkan taraf hidup yang lebih baik dalam membangun mahligai rumah tangga. Melakukan pekerjaan dengan baik karena itu bentuk dari menjalankan kewajiban untuk menjalankan amanah sesuai dengan yang Allah dan Rasulullah contohkan, bukan karena ingin mendapatkan kedudukan/karir yang baik serta penghasilan yang tinggi.
Terus mendukung suami untuk dapat melaksanakan tugasnya dalam memenuhi nafkah dan aturlah kesepakatan keperluan rumah tangga mana yang dapat dibantu dari penghasilan istri.

Seperti yang disebutkan dalam surat Ath-Thalaq (7)
Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang telah Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.

 Dan inilah ayat Allah tentang tempat wanita yang lebih mulia dan lebih baik bagi keluarganya,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا
Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu,dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak Menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlulbait dan Membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Qs. Al Ahzab: 33)
Ayat ini diturunkan untuk teladan terbaik muslimah yaitu ummahatul mu’minin (istri-istri Nabi).
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan,
Menetaplah kalian wahai para wanita di rumah-rumah kalian. Jangan keluar kecuali untuk sebuah keperluan. Di antara keperluan yang syar’i adalah shalat di masjid dengan syarat.”
Hidup ini tidak bisa dilepaskan dari peran laki-laki dalam mendidik anak-anak dan menjaga keluarga. Sementara kehidupan di luar (rumah) tidak bisa dilepaskan dari peran perempuan di dunia pendidikan, keperawatan/kesehatan, peran sosial dan lainnya. 
Jadi, laki-laki tidak boleh menghabiskan dirinya berperan di dalam (rumah) dan mengabaikan bergabung dalam pengembangan umum. Dan wanita tidak boleh menghabiskan dirinya berperan di luar (rumah) dan mengabaikan kewajibannya berketurunan dan pendidikan.” (Dhowabit Tasyghil An Nisa’ hal. 10-11)
Inilah tempat mulia seorang wanita. Tempat yang akan membawa pasangan dan anak kita menuju kebahagiaan, ketenangan dan keberhasilan, biidznillah. Apalagi ibu mempunyai suami yang berada berjauhan dengan anak-anak. Jika ibu juga menghabiskan waktunya di luar, maka bagaimana nanti cara ibu dan suami menjawab pertanyaan Allah di akhirat saat anak-anak kita tidak istimewa.
Begitulah pandangan ahli agama terhadap peran IBU, dan beberapa pandangan saya beserta teman-teman saya di FB (makasi ya..)
Semoga ada manfaat nya dan menjadikan kita menjalani takdir Allah SWT dengan indah baik sebagai FTM, FTWM, FTF, WM.. In Syaa Allah, Aamiin.

Referensi:
Teman – teman FB, sumber inspirasiku  :)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Diri

KISAH DIRI Bismillah..  Dari Abdullah bin Mas’udz, beliau menceritakan bahwa Rasulullah ` tidur di atas tikarnya.  Tikar itu pun membekas di lambung beliau yang mulia.  Para shahabat mengatakan, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika kami buatkan kasur untukmu?” Beliau ` pun menjawab:   :مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا“  "Apa urusanku dengan dunia?! Tidaklah aku di dunia ini kecuali hanyalah seperti musafir yang bernaung di bawah pohon lalu pergi meninggalkannya.” [H.R. At-Tirmidzi].   Wahai diriku,   Hidup yang singkat ini   Pergunakanlah sebaik mungkin   Nikmatilah dengan kesyukuran Rangkailah dengan kebaikan Insafi dengan penyesalan  Wahai diri,  Hidup sekalimu  Harus ditujukan untuk pemilikmu Allah SWT  Kan sia-sia bila hanya untuk dunia   Ingat hidup adalah perjalanan Menuju akhe...

Mengeluh dan Bersyukur

"Ketika Mengeluh Tandanya Kurang Bersyukur" Manusia memiliki sifat berkeluh kesah, apapun yang dijalani pasti ada keluh dibaliknya. Namun... pernahkah kita menyadari bahwa keluh itu membuat kita kurang bersyukur kepada nikmat yang telah diberikan Allah SWT??? Allah telah memberikan rezeki, namun masih saja mengeluh, "Andai uang saya lebih banyak ... hm, pasti menyenangkan bisa beli ini dan itu." Allah sudah memberikan pasangan, "Sebel ih sama Abi... dikit-dikit ngatur, pengennya menang sendiri!" Harusnya kita bersyukur masih Allah berikan pasangan... karena banyak yang mendamba tapi belum datang jua. "Aduhhh, bisa diam gak sih? Mamah udah capek tau!" Teriak pada anaknya yang masih balita, padahal banyak pasangan yang ingin punya keturunan. Harusnya kita lebih baik lagi bersikap pada anak kita. Yang berarti itu bukti syukur kita pada Allah. Masih banyak contoh lain dari keluhan-keluhan yang keluar dari kulit kita tanpa disadari it...

10 Wasiat Imam Hasan Al Banna Rahimahullah (Bag. 2)

🍃🌺Syarah 10 Wasiat Imam Hasan Al Banna Rahimahullah (Bag. 2)🌺🍃 🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾 اتل القران او طالع او استمع او اذكر الله و لا تصرف جزء من وقتك فى غير فائدة Bacalah Al Quran, atau menelaahnya, atau mendengarkannya, atau berdzikirlah kepada Allah, dan jangan buang waktumu sedikit pun dengan hal yang tidak bermanfaat. 🌸🌸🌸🌸🌸 Dalam wasiat ini ada lima nasihat Imam Al Banna kepada murid-muridnya. Kelima nasihat itu adalah: Membaca Al Quran, Menelaahnya, Mendengarkannya, Berdzikir, dan Tidak membuang waktu dengan aktifitas yang sia-sia. Kita bahas satu persatu .. 1⃣ Membaca Al Quran Bagi seorang muslim membaca Al Quran adalah terminal ruhiyah dan jiwa. Hiburan hakiki bagi orang beriman dan senandung para mujahid. Kebutuhan-kebutuhan spiritual manusia baik ketenangan, ketentraman, ketundukan, ikhlas, pasrah kepada ketetapanNya, semua bisa diraih dengan membaca Al Quran, serta merenungi kandungannya. Seandainya hanya membaca, itu pun sudah membawa manfaat bagi jiwany...