Home Schooling Ku
Sekolah di rumah.. atau keren nya Home Schooling (HS) saat ini banyak diminati khususnya oleh ibu-ibu muda yang punya anak kecil yang terkadang sedikit kritis tentang pendidikan anak usia dini yang marak diperbincangkan saat ini. Termasuk penulis, sangat ingin mempunyai HS sendiri terutama untuk anak-anak tercinta, karena hemat saya dengan menyekolahkan terutama untuk anak usia dini tak perlu sekolah elite yang tentunya membutuhkan kocek besar.. cukup di rumah dengan fasilitas yang ada dan kreatifitas di rumah, jadilah sekolah di rumah yang menyenangkan untuk anak. Alhamdulillah, penulis pernah mencoba nya walau hanya 1 semester karena penulis diamanahi mengajar kembali di PAUD oleh teman. Padahal anak-anak sudah merasa nyaman bahkan anak-anak tetangga ada yang ikut sekolah juga.. pokok nya kondusif.
Keinginan untuk meng HS kan anak-anak masih tetap ada, insya Allah.. Apalagi setelah bertemu dengan seorang teman umahat juga (Teh Wiwi, kakak kelas waktu kuliah) yang resmi meng HS kan ke tiga anak nya. Subhanalloh..
sepenggal obrolan kami:
Miya :
Salam.. tth, pha kbr? gmn HS nya lancar?
saya mah tersendat the, krn skrg diminta ngajar di paud it dsini..saya udah nolak-nolak tapi kekeuh maksa.. jadi we, rencana HS nya berantakan
Teh Wiwi :
HS itu ada atas dasar konsep bahwa setiap anak itu (tanpa kecuali) dilahirkan cerdas dengan kelebihannya masing masing.
Tapi sistem pendidikan di indonesia menilai kepandaian anak dari bisa tidaknya dia mengerjakan soal fisika, matematika, kimia, dll. yg bisa dianggap pintar dan yang tidak dianggap bodoh. maka jadilah jika di taun pertama masuk 40 orang murid baru yg pasti mereka cerdas cerdas maka diakhir taun hanya menghasilkan 3 orang anak pintar yaitu rangking 1,2 dan 3 lainnya sedang, biasa dan bodoh. padahal tanpa sepengetahuan kita jika di lihat potensi mereka ada yg cerdas dalam hal menggiring bola, ada yg cerdas dalam merangkai bunga ada yang cerdas dalam berpidato ada yang cerdas dalam melukis, menulis, bercerita, memasak dll. sayangnya semua itu tidak dinilai sebagai suatu kepandaian atau sekedar ekstra kulikuler.
Seperti halnya menilai ikan dari kepandaiannya memanjat, pastilah ikan itu bodoh, jika menilai rusa dari kemampuannya terbang pastilah rusa itu bodoh jika menilai burung dari kemampuannya berlari pastilah burung itu bodoh. seperti itulah sistem pendidikan yang dibangun di negara tercinta ini makanya lebih banyak menghasilkan orang orang bingung daripada orang yang ready to life. lebih banyak menghasilkan orang yg sibuk mencari kerja dari pada yg membangun lapangan kerja.
itulah tugas kita sebagai orang tua melihat potensi kecerdasan anak anak, mendukung dan memfasilitasi. jika anak anak ga tertarik kimia atau fisika tak perlu membebani anak agar mendalami pelajaran itu. karena ilmu yang sesungguhnya adalah ilmu yang kita kuasai dan bisa dipraktekan dalam kehidupan sehari hari bukan ilmu dan kita hapalkan banyak banyak dengan susah payah dan setelah lulus dilupakan.
Miya:
Subhanalloh, super sekali jawabannya.. Lalu, cara mengajar teteh gimana sekarang?
Teh Wiwi:
Kegiatan tth sendiri sekarang thd anak anak hanya sekedar mengarahkan jika kira kira ada perbuatan atau kata kata mereka yang salah. mempersiapka anak no 1 tuk menuju masa akil balig dgn mengajaknya banyak berdiskusi. masalah quran itu urusan ayah mereka. kadang ngebantu ngerjain soal latihan UN (anak no 2 juga dan mulai nyoba ngisi soal un umurnya 8 tahun. alhamdulillah banyak yang bisa)
Miya:
Rencana nya akan meng HS kan sampai kapan teh?
Teh Wiwi:
Rencana tth tuk meng HS kan anak anak sampai SMA kemudian jika dirasa perlu kuliah untuk menunjang karier mereka meraka akan kuliah jika mereka merasa gak perlu kuliah maka mereka tidak akan kuliah.
Anak pertama keukeuh mau jadi penulis. sekarang lagi menulis 2 judul buku dalam satu waktu. belum selesai. alahamdulillah kemarin waktu ada lomba mengarang yg diadakan pemkot salatiga kaka juara pertama. aisha juara 3. sepertinya dia serius tuk jadi penulis sastra. usianya baru 10 tahun 2 hari yang lalu. kalo terusin sekolah harusnya sekarang dia kelas 6 taun ini. dia pun punya prestasi yang bagus di sekolah. tapi ternyata kaka ga suka sekolah. sejak kls 4 sd kaka terus nanyain kapan mau HS.
Miya:
Apa yang teteh paparkan, sungguh inspiratif untuk saya.. Saya pun becita-cita begitu :)
Begitulah obrolan chatting kami, ilmu yang luar biasa.. saya terkesan dengan tekad beliau, saya ingin mencontohnya. Tapi memang membutuhkan waktu yang cukup, terutama untuk memahamkan suami, keluarga sampai masyarakat sekitar.
Anak-anak itu unik dan memiliki kecerdasan yang unik, tidak bisa disamakan satu dengan yang lainnya. Dengan HS mereka bisa lebih kreatif, aktif, mandiri dan memiliki sosial emosi yang baik, bahkan bisa melatih jiwa enterpreuneurship sejak dini. Semua tergantung kurikulum dan daya kreatifitas ibu nya dalam menjalankan HS untuk anak usia dini.
Alhamdulillah saya pernah mencoba nya, semoga kelak saya bisa menerapkan nya untuk pendidikan anak-anak di tingkat yang lebih tinggi. Amiin
Ini foto-foto Home Schooling Hanif - Nada 2012 :
Cooking Class
Sentra Seni Kreasi
Sentra Olah Raga
Semoga bermanfaat ^-^



Komentar
Posting Komentar