Antara
Ainun Habibie Dan Valentine
Valentine merupakan momen yang biasa dipakai untuk mengungkapkan
perasaan cinta, tapi disini saya tidak akan membahas valentine.. Yang saya tahu
itu adalah bukan budaya Indonesia apalagi Islam.Maksud saya mengawali tulisan
ini dengan valentine karena yang akan saya sampaikan tentang kasih sayang,
cinta sejati yang masih ada pada jaman sekarang ini... Kisah Ainun dan Habibie
Saya sangat terkesan dengan cerita cinta mereka yang sungguh
banyak mencerminkan ketulusan mencintai, keikhlasan dalam berkorban, saling
memahami. Terutama sosok Ainun yang sangat menginspirasi untuk wanita - wanita
abad ini, bisa menjadi acuan bagi kita ibu rumah tangga yang sering dianggap
sebagai pekerjaan nomor dua.. Padahal ini adalah pekerjaan hakiki seorang
wanita yang perlu diperjuangkan karena kemuliaan nya, bahkan dalam sebuah
hadits Rasulullah bersabda, : "Ibu Adalah Madrasah Ummat"
Ketika hari ibu tahun lalu tepat nya tanggal 22 Desember 2012,
saya mendapat kiriman BBM dari suami tercinta... Yaitu kutipan dari buku yang
ditulis oleh ibu Ainun Habibie, begini tulisan nya:
Saya
tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang.
Dan
sangat mungkin saya bekerja waktu itu.
Namun
saya pikir: buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yg barangkali cukup
banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji
tinggi dengan resiko kami kehilangan kedekatan pada anak sendiri?
Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya
tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk pribadinya sendiri?
Anak saya akan tidak memiliki ibu.
Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orang tua kehilangan anak,
dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja?
Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan.
Bertahun-tahun kami bertiga hidup begitu.
" Jangan biarkan Anak - anak mu
hanya bersama pengasuh mereka".
Bagaimana bila dibantu pengasuhan dengan kakek neneknya?
Sudah cukup rasanya membebani orangtua dengan mengurus kita sejak lahir sampai
berumah tangga.
Kapan lagi kita mau memberikan kesempatan kepada orangtua untuk penuh beribadah
sepanjang waktu di hari tuanya.
Mudah2an ini bisa jadi penyemangat dan jawaban utk ibu-ibu berijazah yang rela
berkorban demi keluarga & anak-anaknya.
Karena ingin Rumah Tangganya tetap terjaga & anak-anak bisa tumbuh dengan
penuh perhatian, tidak hanya dalam hal akademik, tapi juga untuk mendidik
agamanya, karena itulah sejatinya peran orangtua.
Belajar dari kesuksesan orang-orang hebat, selalu ada pengorbanan dari
orang-orang yang berada dibelakangnya, yang mungkin namanya tidak pernah
tertulis dalam sejarah.
Berbanggalah Engkau sang Ibu Rumah Tangga, karena itulah pekerjaan seorang
wanita yg paling mulia..
Happy Mother Days..
Terhenyak seketika setelah membaca pesan
tersebut, sekaligus ada rasa syukur yang mendalam karena saat ini saya adalah
seorang Ibu Rumah Tangga yang berusaha istiqomah ditengah kondisi dan tawaran
yang menggiurkan untuk kembali ke dunia kerja.Profesi Ibu Rumah Tangga ini
harus diperjuangkan tidak hanya oleh istri melainkan oleh suami yang
menginginkan keluarga nya bahagia, tetapi hal ini masih pro kontra juga. Bahkan
masih banyak yang menyepelekan profesi mulia ini.
Kembali
pada kisah Ainun Habibie yang akhirnya bahwa cinta, pengorbanan, dan
kesetiaan adalah kata kerja yang dilalui untuk membuktikan secara
total seseorang untuk menjalani kehidupan yang penuh rintangan. Ainun dan
Habibie mampu menjalani semua itu secara bersama dan tidak ada yang dapat
memisahkannya, kecuali maut menjemputnya. Takdir menggariskan Ainun
meninggalkan Habibie terlebih dahulu. Cukup pantas bila Habiibie dipandang
sebagai lelaki yang tidak hanya dikenal sebagai seorang yang genius,demokrat
atau negarawan tetapi juga sebagai seorang yang setia dan romantis. Tidak saja
pada kekasih tercintanya –Ainun, melainkan kepada agama, bangsa, dan
negara.
Kehidupan
ini hanya sekali.. Mempunyai keluarga, suami dan anak - anak adalah anugerah
dan rizki yang sangat berharga. Jadi jangan sia - siakan, berbagi peran dan
berusaha saling memahami kondisi pasangan.. Smoga Allah memberikan jalan keluar
dari segala masalah, terutama ekonomi ketika berkomitmen untuk menjadi IRT.
Kita syukuri kondisi saat ini, sabar dan terus berikhtiar!!!
Semoga Bermanfaat ^_^
#MasihFebruari2013
Antara
Ainun Habibie Dan Valentine
Valentine merupakan momen yang biasa dipakai untuk mengungkapkan
perasaan cinta, tapi disini saya tidak akan membahas valentine.. Yang saya tahu
itu adalah bukan budaya Indonesia apalagi Islam.Maksud saya mengawali tulisan
ini dengan valentine karena yang akan saya sampaikan tentang kasih sayang,
cinta sejati yang masih ada pada jaman sekarang ini... Kisah Ainun dan Habibie
Saya sangat terkesan dengan cerita cinta mereka yang sungguh
banyak mencerminkan ketulusan mencintai, keikhlasan dalam berkorban, saling
memahami. Terutama sosok Ainun yang sangat menginspirasi untuk wanita - wanita
abad ini, bisa menjadi acuan bagi kita ibu rumah tangga yang sering dianggap
sebagai pekerjaan nomor dua.. Padahal ini adalah pekerjaan hakiki seorang
wanita yang perlu diperjuangkan karena kemuliaan nya, bahkan dalam sebuah
hadits Rasulullah bersabda, : "Ibu Adalah Madrasah Ummat"
Ketika hari ibu tahun lalu tepat nya tanggal 22 Desember 2012,
saya mendapat kiriman BBM dari suami tercinta... Yaitu kutipan dari buku yang
ditulis oleh ibu Ainun Habibie, begini tulisan nya:
Saya
tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang.
Dan
sangat mungkin saya bekerja waktu itu.
Namun
saya pikir: buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yg barangkali cukup
banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji
tinggi dengan resiko kami kehilangan kedekatan pada anak sendiri?
Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk pribadinya sendiri?
Anak saya akan tidak memiliki ibu.
Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orang tua kehilangan anak, dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja?
Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan.
Bertahun-tahun kami bertiga hidup begitu.
" Jangan biarkan Anak - anak mu hanya bersama pengasuh mereka".
Bagaimana bila dibantu pengasuhan dengan kakek neneknya?
Sudah cukup rasanya membebani orangtua dengan mengurus kita sejak lahir sampai berumah tangga.
Kapan lagi kita mau memberikan kesempatan kepada orangtua untuk penuh beribadah sepanjang waktu di hari tuanya.
Mudah2an ini bisa jadi penyemangat dan jawaban utk ibu-ibu berijazah yang rela berkorban demi keluarga & anak-anaknya.
Karena ingin Rumah Tangganya tetap terjaga & anak-anak bisa tumbuh dengan penuh perhatian, tidak hanya dalam hal akademik, tapi juga untuk mendidik agamanya, karena itulah sejatinya peran orangtua.
Belajar dari kesuksesan orang-orang hebat, selalu ada pengorbanan dari orang-orang yang berada dibelakangnya, yang mungkin namanya tidak pernah tertulis dalam sejarah.
Berbanggalah Engkau sang Ibu Rumah Tangga, karena itulah pekerjaan seorang wanita yg paling mulia..
Happy Mother Days..
Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk pribadinya sendiri?
Anak saya akan tidak memiliki ibu.
Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orang tua kehilangan anak, dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja?
Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan.
Bertahun-tahun kami bertiga hidup begitu.
" Jangan biarkan Anak - anak mu hanya bersama pengasuh mereka".
Bagaimana bila dibantu pengasuhan dengan kakek neneknya?
Sudah cukup rasanya membebani orangtua dengan mengurus kita sejak lahir sampai berumah tangga.
Kapan lagi kita mau memberikan kesempatan kepada orangtua untuk penuh beribadah sepanjang waktu di hari tuanya.
Mudah2an ini bisa jadi penyemangat dan jawaban utk ibu-ibu berijazah yang rela berkorban demi keluarga & anak-anaknya.
Karena ingin Rumah Tangganya tetap terjaga & anak-anak bisa tumbuh dengan penuh perhatian, tidak hanya dalam hal akademik, tapi juga untuk mendidik agamanya, karena itulah sejatinya peran orangtua.
Belajar dari kesuksesan orang-orang hebat, selalu ada pengorbanan dari orang-orang yang berada dibelakangnya, yang mungkin namanya tidak pernah tertulis dalam sejarah.
Berbanggalah Engkau sang Ibu Rumah Tangga, karena itulah pekerjaan seorang wanita yg paling mulia..
Happy Mother Days..
Terhenyak seketika setelah membaca pesan
tersebut, sekaligus ada rasa syukur yang mendalam karena saat ini saya adalah
seorang Ibu Rumah Tangga yang berusaha istiqomah ditengah kondisi dan tawaran
yang menggiurkan untuk kembali ke dunia kerja.Profesi Ibu Rumah Tangga ini
harus diperjuangkan tidak hanya oleh istri melainkan oleh suami yang
menginginkan keluarga nya bahagia, tetapi hal ini masih pro kontra juga. Bahkan
masih banyak yang menyepelekan profesi mulia ini.
Kembali
pada kisah Ainun Habibie yang akhirnya bahwa cinta, pengorbanan, dan
kesetiaan adalah kata kerja yang dilalui untuk membuktikan secara
total seseorang untuk menjalani kehidupan yang penuh rintangan. Ainun dan
Habibie mampu menjalani semua itu secara bersama dan tidak ada yang dapat
memisahkannya, kecuali maut menjemputnya. Takdir menggariskan Ainun
meninggalkan Habibie terlebih dahulu. Cukup pantas bila Habiibie dipandang
sebagai lelaki yang tidak hanya dikenal sebagai seorang yang genius,demokrat
atau negarawan tetapi juga sebagai seorang yang setia dan romantis. Tidak saja
pada kekasih tercintanya –Ainun, melainkan kepada agama, bangsa, dan
negara.
Kehidupan
ini hanya sekali.. Mempunyai keluarga, suami dan anak - anak adalah anugerah
dan rizki yang sangat berharga. Jadi jangan sia - siakan, berbagi peran dan
berusaha saling memahami kondisi pasangan.. Smoga Allah memberikan jalan keluar
dari segala masalah, terutama ekonomi ketika berkomitmen untuk menjadi IRT.
Kita syukuri kondisi saat ini, sabar dan terus berikhtiar!!!
Semoga Bermanfaat ^_^
#MasihFebruari2013
Komentar
Posting Komentar